Gratis Joomla Templates by Hostmonster Coupon
Launching Our Latest Product : eMedWeb ++++ New Release : eMedWeb Laboratory Information System (LIS)

Apa itu INA CBGs?

Category: Uncategorised Published on Thursday, 30 January 2014 Written by Ronny Loekito

Bagaiman dengan penerapan INA CBGs ?

INA CBGs merupakan kelanjutan dari aplikasi Indonesia Diagnosis Related Groups (INA DRGs). Aplikasi INA CBGs menggantikan fungsi dari aplikasi INA DRG yang saat itu digunakan pada Tahun 2008. Dalam persiapan penggunaan INA CBG dilakukan pembuatan software entry data dan migrasi data, serta membuat surat edaran mengenai implementasi INA-CBGs.

Sistem yang baru ini dijalankan dengan menggunakan grouper dari United Nation University Internasional Institute for Global Health (UNU – IIGH). Universal Grouper artinya sudah mencakup seluruh jenis perawatan pasien. Sistem ini bersifat dinamis yang artinya total jumlah CBGs bisa disesuaikan berdasarkan kebutuhan sebuah negara. Selain itu, sistem ini bisa digunakan jika terdapat perubahan dalam pengkodean diagnosa dan prosedur dengan sistem klasifikasi penyakit baru.

Pengelompokan ini dilakukan dengan menggunakan kode-kode tertentu yang terdiri dari 14.500 kode diagnosa (ICD – 10) dan 7.500 kode prosedur/tindakan (ICD – 9 CM ). Mengombinasikan ribuan kode diagnosa dan prosedur tersebut, tidak mungkin dilakukan secara manual. Untuk itu diperlukan sebuah perangkat lunak yang disebut grouper. Grouper ini menggabungkan sekitar 23.000 kode ke dalam banyak kelompok atau group yang terdiri dari 23 MDC (Major Diagnostic Category), terdiri pula dari 1077 kode INA DRG yang terbagi menjadi 789 kode untuk rawat inap dan 288 kode untuk rawat jalan.

Kode daripada INA CBGs inilah yang dijadikan standard tarif Rumah Sakit bagi pengelolaan tarif JAMKESMAS, JAMSOSTEK, dll. Untuk mulai tahun 2014, semua dilebur menjadi BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial). Semua pengelolaan tarif tersebut dipergunakan dalam rangka JKN (Jaminan Kesehatan Nasional) yang diterapkan mulai tahun 2014. Intinya sebenarnya mengarah kepada standarisasi tarif bagi seluruh Rumah Sakit di Indonesia, menggunakan sistem peng-kode-an INA CBGs.

Penerapan sistem pengkodean tersebut terkesan dipaksakan dan kurang perencanaan. Karena dampaknya banyaknya keluhan, baik dari sisi Rumah Sakit, terutama Rumah Sakit swasta dan juga dari pasien atau calon pasien sendiri. Tarif yang ditetapkan sepihak oleh pemerintah, terkesan sangat minim, yang bisa merugikan beberapa pihak, seperti Dokter dan juga Rumah Sakit swasta itu sendiri. Sehingga pelayanan dan penerapannya di beberapa Rumah Sakit, terkesan tidak sepenuh hati. Hal ini diungkapkan oleh Sekjen KAJS Said Iqbal, sebagai berikut :

Jakarta (ANTARA News) - Sekretaris Jenderal Komite Aksi Jaminan Sosial (KAJS) Said Iqbal mengatakan sistem "Indonesia Case Based Groups" (INA-CBGs) yang diterapkan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Kesehatan (BPJS) malah menghambat pelayanan Jaminan Kesehatan Nasional.

"Sesuai dengan UU tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) dan SJSN mengamanatkan jaminan kesehatan bagi seluruh rakyat tanpa adanya batasan biaya, dan seluruh penyakit ditanggung. Akan tetapi, faktanya adanya penerapan INA-CBGs membuat RS ataupun klinik tidak melayani dengan sepenuh hati," ujar Said Iqbal di Jakarta, Minggu.

Semoga penerapannya di masa2 yang akan datang bisa membuat sistem pelayanan yang lebih baik, untuk semua pihak, baik dari sisi pasien, dokter maupun rumah sakit itu sendiri..............

 

Salam,

 

Tonny Loekito, Skom, Mkom

Hits: 1656